Foto: google.com

Di sepanjang perjalanan, dia memegang erat tanganku, dia sepertinya berat untuk pulang meninggalkanku. Ternyata sehebat itu cinta datang dengan cepat dan berlalu dengan seiring waktu. Aku sangat sedih dan aku berfikir akankah Chaterinne kembali lagi ke sini. Kalimat itu yang selalu ada dibenakku, rasanya ingin sekali waktu terakhir ini ku perlambat.

Sesampainya di Bandara, Aish memeluk erat Chaterinne sampai menangis.


“Sudahlah Aish jangan sedih kita kan masih bisa berkirim kabar. Aish, Chaterinne sangat berterimakasih kepada Aish dan ayah Aish, sudah mau menerima Chaterinne di sana dan mengajariku menjadi seorang muslimah,” kata Chaterinne sambil mencium kening Aish penuh kasih.


“Chaterinne, Aish nangis nih, Aish sedih kamu pulang secepat itu. Janji ya kita harus sering berkirim kabar dan aku percaya kamu pasti akan segera kembali untuk kami, insyaallah,” jawabku mengingatkan.


Kemudian dia mendekatiku dan memegang tanganku,


“Sebelum aku pergi, tunjukkan senyumu itu padaku, agar aku selalu mengingatnya di seperpanjang jalan. Ingat kan janji Allah pasti ditepati kalau kita berjodoh. Aku akan kembali dan kita akan bersatu Mal. Kemal jangan sedih ya kamu harus selalu senyum, semangat dan berusaha. Ohh iya aku akan selalu mendo’akan kesuksesanmu agar suatu saat kita di pertemukan kembali,” seketika ucapan Chaterinne meneteskan air mataku.


“Chaterinne, terima kasih kamu sudah menerimaku, kamu sudah menjadi inspirasi di hidupku aku sangat menyayangimu. Kamu janji kan akan kembali lagi, aku akan selalu menantimu dengan do’aku yang melambung di angkasa, aku cemas kau akan meninggalkanku lalu melupakanku,” jawabku dengan cemas.


“Kemal, aku pergi dengan membawa syahadat dan cinta. Dari kalian aku sudah belajar banyak tentang agama Islam dan aku sekarang sudah menjadi seorang muslimah yang paling bahagia. Aku akan kembali jika Allah mengkehendaki, percayalah aku menyayangimu dan sangat mencintaimu karena kau telah mengenalkanku pada cinta yang sesungguhnya,” sekali lagi ku usap air mataku yang mentes melihat kepergian Chaterinne.


Pesawat yang akan di tumpangi Chaterinne akan segera berangkat dan perasaankupun ikut tak menentu tapi aku percaya pada Chaterinne dia pasti akan kembali lagi dengan membawa syahadat dan cinta dariku saat itulah dia berjalan menjauh dariku dan Aisyah, lalu berlalu begitu saja.


Saat itulah juga aku kehilangan separuh hatiku tapi karena Chaterinne, aku jadi seorang yang sangat kuat. Aku sangat berharap dia segera kembali dan aku juga akan sangat merindukannya dan akan kubuktikan kepada Chaterinne bahwa aku akan sukses di masa depan dan ketika dia kembali dia kita akan bertemu saat benar – benar sudah siap menyatu.


Terima kasih Chaterinne kau telah merubah hidupku, kau telah datang dan menghiasi hari – hariku.


Aku percaya pada takdir Allah, sejauh apapun kita kalau kita berjodoh Allah pasti akan satukan kembali.


Selamat jalan Chaterinne. Aku mencintaimu aku akan selalu setia menantimu kembali membawa syahadat cinta dariku.


~SALAM~

Penulis: Adisty Nur Andini/SQ

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *