Ilustrasi (sumber : pinterest)

SQPers – Sering kali kita mendengar istilah mencetak lulusan berprestasi pada pamflet penerimaan mahasiswa baru. Namun apabila kita telisik lebih dalam, apakah pantas fungsi kampus direduksi sebagai sebuah “cetakan”? Apakah pantas, fungsi pendidikan hanya untuk mencetak lulusan dengan kriteria tertentu?

Era globalisasi telah berada pada tahap Revolusi Industri 4.0, dimana revolusi yang muncul tahun 2010-an ini ditandai dengan maraknya penggunaan kecerdasan buatan (artificial Intelligence) serta penggunaan Internet of Things (IoT). Revolusi ini dapat dikatakan sebagai revolusi industri yang memiliki perkembangan paling pesat, sehingga kita perlu bersiap agar mampu bersaing dengan negara lain.

Hadirnya Revolusi Industri 4.0 membawa berbagai manfaat, seperti meningkatnya produktivitas, efisiensi sumber daya, layanan kustomisasi produk serta lahirnya model bisnis baru. Selain itu, revolusi industri 4.0 juga memiliki berbagai tantangan. Dalam penerapannya, dapat menyebabkan berbagai perubahan demografi dan aspek sosial masyarakat, keterbatasan sumber daya, meningkatnya kerusakan lingkungan, dan lainnya. Berbagai tantangan tersebut harus segera diantisipasi sebelum muncul berbagai permasalahan yang lebih besar.

Dunia pendidikan tentu tak lepas dari pengaruh teknologi dan revolusi industri 4.0. Kemampuan analisis dan inovasi menjadi syarat mutlak agar kita mampu mengimbangi laju revolusi industri 4.0. Dalam dunia pendidikan, diperlukan perbaikan kurikulum dan kompetensi siswa, antara lain: (1) Kemampuan berpikir kritis, (2) Kreativitas dan inovasi, (3) Komunikasi interpersonal, (4) Kolaborasi, dan (5) Kepercayaan diri.

Jika memandang pendidikan kita saat ini, masih banyak lubang yang harus ditambal. Infrastruktur pendidikan yang jauh dari kata memadai, jumlah dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum merata, hingga masalah finansial yang menjadi penyebab tingginya angka putus sekolah. Masalah lain yang menggerogoti pendidikan Indonesia adalah sistem pendidikan yang banyak di-intervensi oleh kepentingan politik. Manajemen pendidikan yang belum profesional, serta orientasi pendidikan yang hanya berfokus untuk menghasilkan calon buruh sesuai tuntutan industri.

Sistem pendidikan yang hanya berfokus untuk memenuhi kebutuhan industri telah lama dikritik oleh Paulo Freire pada bukunya “Pedagogy of the Oppressed”. Freire menyebut jika sistem pendidikan seperti ini sebagai pendidikan gaya kolonial. Menurutnya, dalam tatanan antar kelas sosial yang tidak setara, sistem pendidikan seperti ini hanya berfungsi untuk melanggengkan kuasa masyarakat kelas atas dalam menindas kaum kelas bawah.

Sistem pendidikan gaya kolonial ini menyebabkan kaum penindas bebas menentukan arah pendidikan. Aspirasi kelompok masyarakat kelas bawah atau “kaum tertindas” tidak didengarkan. Kaum tertindas tidak bisa mengatur tujuan hidup mereka sendiri, karena seluruh hidupnya diatur oleh kaum kelas atas. Hal ini menyebabkan munculnya mentalitas inferior pada masyakarat kelas bawah sehingga kaum tertindas semakin sulit untuk bangkit.

Freire berargumen bahwa pendidikan yang ideal harus berorientasi pada nilai-nilai humanisme. Mengembalikan kodrat manusia sebagai subjek/pelaku, bukan sebagai objek pendidikan. Pendidikan seharusnya menjadi motor “penggugah” dan pembebasan umat manusia dari ketertindasan. Proses belajar harusnya berkaca pada lingkungan sosial setempat, sehingga proses belajar juga menjadi proses penyelesaian permasalahan di lingkungan tersebut.

Relasi guru dengan murid bukanlah relasi “atas-bawah” tetapi relasi yang setara. Menurut Freire, dengan relasi kedudukan yang setara membuat proses belajar lebih interaktif dan demokratis. kedua belah pihak bebas menyampaikan argumentasinya sehingga baik guru maupun murid saling belajar satu sama lain. Dalam kata lain, mereka secara simultan menjadi seorang guru dan seorang murid sekaligus.

Berdasarkan kritik Freire tersebut, dapat kita refleksikan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Pendidikan Indonesia yang belum mampu keluar dari gaya “pendidikan kolonial” dan menjadi motor perubahan hanya berfungsi sebagai pencetak calon buruh industri. Lalu bagaimana cara kita sebagai insan akademis menyikapi permasalahan ini?

Paradigma pendidikan Indonesia harus diubah menjadi lebih demokratis, terbuka, dan berbasis pada lingkungan sosial masyarakat setempat. Melalui perubahan paradigma ini, diharapkan membangun kesadaran mahasiswa atas realitas kondisi kehidupan di sekitarnya. Mahasiswa mampu mendayagunakan pemikirannya untuk memecahkan permasalahan faktual yang ada. Melalui paradigma ini juga, mahasiswa tak lagi hanya menjadi celengan yang hanya mengumpulkan ilmu dari dosen, tetapi juga mampu mendayagunakan ilmu tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga pola pikir inovatif muncul pada diri mahasiswa.

Perkembangan teknologi sangat bergantung pada riset-riset ilmiah. Sedangkan di Indonesia, kualitas dan penerapan riset tersebut masih jauh dari kata memadahi. Akademisi berlomba-lomba menerbitkan tulisan di jurnal bereputasi tinggi, akan tetapi masyarakat belum merasakan manfaat riset tersebut. Jurnal ilmiah hanya menjadi konsumsi akademisi karena bahasanya yang rumit dan sulit dipahami masyarakat umum.

Di sisi lain, di lingkungan masyarakat banyak terjadi fenomena hoax. Sosial media dipenuhi informasi menyesatkan dengan mengabaikan kode etik jurnalistik. Informasi edukatif tenggelam dan dikalahkan dengan maraknya video provokatif yang belum tentu kebenarannya. Di sisi lain, masyarakat umum lebih percaya kepada influencer daripada ilmuan dengan segala keahlian dan pengalamannya.

Oleh karena itu, kita sebagai insan akademis perlu membumikan sains dengan mendekatkan sains pada kehidupan masyarakat. Melalui tulisan-tulisan di media populer, kita menyebarkan luaskan hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat awam. Dengan langkah tersebut, kita bisa mengedukasi dan menggugah kesadaran masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat mampu menyadari potensi maupun permasalahan di sekitarnya.

Dunia pendidikan memiliki tantangannya tersendiri dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Pendidikan harus berorientasi pada nilai-nilai humanisme. Mahasiswa tak boleh hanya menjadi celengan ilmu, tetapi harus mampu menggunakan ilmu tersebut untuk mengatasi permasalahan faktual yang ada di lingkungan mereka. Melalui perubahan paradigma pendidikan dan gerakan membumikan sains diharapkan inovasi muncul sebagai jawaban atas tantangan revolusi industri 4.0.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, tentu kita tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi dan komunikasi yang baik agar menghasilkan output yang optimal. Mahasiswa sebagai masa depan bangsa harus membekali diri dengan baik agar mampu bersaing.

(Esai tersebut pernah menjadi juara 1 lomba Esai yang diselenggarakan oleh BEM FKSP UNSIQ tahun 2021)

Kontributor : Ahmad Maruf/Mahasiswa aktif jurusan Teknik Informatika Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ)

Editor : Fella Zulfa/SQ

Referensi:

Ariyanti, F (2020) Jangan Sepelekan! Masalah Pendidikan Ini Ancam Masa Depan Anak Anda Available at: https://www.cermati.com/artikel/jangan-sepelekan-masalah-pendidikan-ini-ancam-masa-depan-anak-anda (Accessed: 12 Juli 2021).

Datungsolang, R. (2018) Konsep Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Islam (Studi Pemikiran Paulo Freire), Jurnal Ilmiah Al-Jauhari, 3(2), pp. 4977. doi:10.30603/jiaj.v3i1.686.

Faiz, F (2018) Ngaji Filsafat 206: Paulo Freire (Filsafat Pendidikan) Available at: https://www.youtube.com/watch?v=kr_oTzSxtb8 (Accessed: 11 Juli 2021).

Heryanto, A. (2018) Pendidikan, setelah 20 tahun Reformasi Available at: https://theconversation.com/pendidikan-setelah-20-tahun-reformasi-97209 (Accessed: 12 Juli 2021).

Junaidi, A. (2021) Kutukan ilmu pengetahuan: banyak akademisi lebih fokus “terdengar pintar daripada membumikan sains pada masyarakat, Avaiable at: https://theconversation.com/kutukan-ilmu-pengetahuan-banyak-akademisi-lebih-fokus-terdengar-pintar-daripada-membumikan-sains-pada-masyarakat-158877 (Acessed: 11 Juli 2021).

Nastiti, F. and Abdu, A. (2020) Kajian: Kesiapan Pendidikan Indonesia Menghadapi Era Society 5.0, Edcomtech Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 5(1), pp. 6166. doi:10.17977/um039v5i12020p061.

Prasetyo, B. and Trisyanti, U. (2018) Revolusi Industri 4.0 Dan Tantangan Perubahan Sosial, IPTEK Journal of Proceedings Series, 0(5), pp. 2227. doi:10.12962/j23546026.y2018i5.4417.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *