Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Kabinet Falsafah Juang menggelar acara “Ngaji Milenial” pada Selasa, (12/12/2023) di GOR Poedjiharjo kawasan kampus 2 UNSIQ.  Tema acara tersebut diambil dari salah satu Qoidah Fiqh yaitu: المُحَافَضَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَ الْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحْ.

Acara berlangsung mulai pukul 10:15 WIB, dihadiri oleh civitas akademika UNSIQ, perwakilan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK), hingga masyarakat umum.

Turut hadir Rektor UNSIQ, Zainal Sukawi serta diramaikan sebanyak 823 peserta berdasarkan rekap registrasi panitia.

SQPERS.COM

Ngaji Milenial menghadirkan dua tokoh Ulama’ Muda. Yakni, Lora Ismail Al-Kholilie dan Gus Abdurrahman Kafa, serta dipandu oleh Didi Kurniawan, mahasiswa Prodi KPI UNSIQ tahun 2019 sebagai moderator.

Lora Ismail Al-Kholilie dikenal sebagai Alumni Darul Musthofa, Tarim, Yaman. Merupakan salah satu pendakwah yang aktif di sosial media. Memiliki karya berupa tulis yang dihimpun dalam bentuk buku. Salah satunya berjudul “Catatan dari Tarim”.

Sementara Gus Abdurrahman Kafa merupakan Kiai muda yang berasal dari keluarga Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ia cukup aktif menulis dan berdakwah di sosial media, khususnya Instagram.

Kepada LPM SQ, Presiden Mahasiswa UNSIQ menyampaikan tema acara terakhir BEM Kabinet Falsafah Juang periode 2023. Menurutnya, tema kegiatan Ngaji Milenial ini terdapat defisit pekerti. Bahwa, kampus UNSIQ dikenal sebagai ‘Kampus Hijau’; memiliki Manhajul Fikr serta Manhajul Harokah bercorak khas Aswaja. Sehingga kegiatan Ngaji Milenial menjadi persesuaian historis pendirinya, K.H Muntaha Al-Hafidz.

“Kalau terkait dengan temanya itu, kan,  karena memang ada defisit pekerti. Karena UNSIQ dirikan oleh Kiai Khos, K.H. Muntaha Al-Hafidz, kita ngaji kan maksudnya berbicara nilai-nilai Aswaja. Nah, bagian-bagian itu yang harus kita rawat,” tutur Bagus Adi Saputro dalam wawancaranya.

Selanjutnya, Bagus melihat  banyak kegiatan Ormawa dilaksanakan hanya karena euforia dan kesenangan. Seharusnya program kerja diturunkan dari Visi-Misi. Ia berharap untuk selanjutnya kegiatan semacam konser, sebaiknya, dikembalikan menuju ciri khas wilayah kampus yang lahir dari rahim kepesantrenan.

“Melihat khususnya di Ormawa tersendiri banyak yang mengadakan kegiatan itu hanya semacam konser. Di situ sebetulnya apa yang dibawa? Seharusnya, kan, yang namanya program kerja diturunkan dari visi misi. Jadi kalau hanya semacam misi ‘penting kegiatan happy-happy dan euforia’bisa jadi percuma. Kembali lagi ke wilayah kampus kita. Karena, pertama, lahir dari rahim kepesantrenan. Kedua, itu adalah ‘Kampus Hijau’. Wajah UNSIQ,” imbuhnya.

Merawat Nilai Kuno yang baik dan Merespon  Nilai baru yang lebih Maslahat

SQPERS.COM

Pemaparan tema diskusi terkait Qoidah yang diadopsi Nahdlatul Ulama’ (NU) sebagai landasan moderasi, pertama kali disampaikan oleh Gus Abdurrahman Kafa.

Dalam penjelasannya, arti Qoidah tersebut secara mudah dimaknai sebagai pesan untuk menjaga tradisi lama yang baik dan menginovasikan tradisi baru yang lebih baik.

Kata Cak Iman, sapaan akrabnya, kita sebagai santri dan kader NU tak perlu gengsi mempertahankan tradisi kuno namun tak juga menutup mata pada hal baru yang lebih baik. Tradisi kuno yang senantiasa dilestarikan Ulama’ justru lebih maslahat daripada hal baru yang masih dipertanyakan kualitasnya.

Ia memberikan analogi dengan Al-Quran boleh ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun  metode  ilmu  tafsir tidaklah dilakukan secara sembarangan. Ulama mengecam percobaan dalam menafsirkan Al-Qur’an yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Satu nasehat Cak Im untuk peserta yang hadir adalah pengingat soal perbaikan diri dan mengatasi rasa malas. Manusia tak akan luput dari penyakit hati, kata Cak Im, maka haruslah kita usir penyakit tersebut dengan baca kitab, tasawuf, buku dan karya-karya yang sekiranya dapat membangkitkan jiwa.
“Nafsu itu karakternya selalu menarik diri kita untuk enak-enakan entah itu positif ataupun negatif,” lanjutnya.

Kita dilahirkan sebagai manusia sepaket dengan hormon bahagia apalagi saat melakukan aktivitas tertentu dengan keadaan hormon yang beragam. Kita tak akan menjadi seorang yang berkualitas jika kita selalu suka hal yang instan saja.
“Nafsu,” Cak Im pelan-pelan menjelaskan. “Jika dibiarkan maka selama itu pula kalian akan dikendalikan. Tetapi kalau kalian mau mengendalikannya maka otomatis (nafsu) akan terkendalikan,” tutup beliau.

Berdamai dengan Takdir dan Bagaimana Effort itu Penting

SQPERS.COM

Penjelasan tema kemudian diteruskan oleh Lora Ismael. Menurutnya, segala bentuk kesusahan yang sebenarnya menjadi tujuan kita diuji oleh Allah tidak perlu dibuat sumpek. Beliau mengutip quotes:
“Berdamailah dengan takdir. Di dunia ini tidak kebahagiaan maupun kesedihan yang abadi.”

Cicit Syaikhona Cholil tersebut juga memaparkan apa saja bentuk-bentuk kesalahan berdamai dengan takdir. Salah satunya adalah mengantungkan harapan di waktu yang salah.
“Harapan itu bagus, tapi ketika waktunya tidak tepat saat mengantungkan sesuatu yang sudah terjad, itu salah. Karena tidak ada kemungkinan yang lebih indah dari apa yang sudah dipastikan untuk kita oleh Allah,” kata Lora.

Menariknya, Ra Ismael mengutip sebuah syair dari Al-Mutanabbi, seorang penyair dan ilmuwan pada masa Abbasiyah:

وَلم أرَ في عُيُوبِ النّاسِ شَيْئاً # كَنَقصِ القادِرِينَ على التّمَامِ

“Tidak ada cacat dalam diri seseorang yang lebih buruk daripada ketidaksempurnaan beserta kemampuannya untuk menuju kesempurnaan”

Terakhir, Lora Ismael memberi penjelasan dari syair itu bagaimana kita hanya mampu berusaha, selebihnya biar Allah yang menyempurnakan. Ia menegaskan bagaimana pentingnya sebuah effort. Karena kita tidak akan dianggap buruk  kecuali masih memiliki upaya untuk menuju  kesempurnaan.

Salah satu peserta mengungkapkan rasa syukur bisa menghadiri Ngaji Milenial. Alasannya bisa berjumpa langsung dengan Gus Abdurrahman Kafa dan Lora Ismael Al-Kholilie meskipun dari jarak jauh. Ia mengapresiasi BEM UNSIQ telah mengadakan acara secara gratis dan memberikan kesempatan mahasiswa untuk bisa berpartisipasi.

“Alhamdulillah, senang banget. Apalagi saya ingin bertemu Lora Ismael secara langsung. Meskipun nggak dekat, ya, jaraknya. Panitia cukup responsif dalam mengabarkan berita lanjutan terkait acara ini dan baik banget bisa membuat acara seperti ini, apalagi gratis, ya, pasti banyak yang mau,” papar Ainia Salsabila, alumni Prodi Pendidikan Fisika UNSIQ yang telah lulus dua tahun lalu.

Pewarta: Hasna, Anwar, dan Toha
Penulis: Rossihan Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *