Freepik.com

Belakangan ini sedang santer disajikan informasi konflik Israel-Palestina. Apalagi dengan pesatnya perkembangan media massa, berita-berita tersebut makin mudah diakses, mulai dari korban luka-luka, tewas, atau bayi kehilangan orang tuanya; yang membuat saya sendiri terenyuh.

Beberapa orang menganggap peperangan di Israel-Palestina disebabkan faktor agama. Persepsi ini terbangun salah satunya karena mayoritas penduduk Israel dari Yahudi, sedangkan mayoritas penduduk Palestina adalah Islam. Padahal, konflik ini justru disebabkan oleh masalah politik dan selisih teritorial dari sejarah yang berkepanjangan. Perang di sekitar wilayah Gaza ini juga menjadi masalah bagi semua manusia karena merugikan banyak pihak, kerusakan tak hanya menimpa tempat ibadah, tapi juga rumah sakit, sekolah, atau rumah-rumah warga sipil; juga berdampak pada beberapa umat lain seperti menimpa warga Kristen dan Druze.

Isu-isu kemanusian pun makin hangat diperbincangkan di berbagai media. Mulai oleh pemerintahan, koalisi HAM, hingga semua elemen seperti organisasi masyarakat. Saya jadi teringat Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan, “Jika seseorang itu bukan saudaramu dalam agama, maka dia saudaramu dalam kemanusiaan.” Dan semua kitab suci pun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dengan beragam upaya misalnya saling mengasihi dan membantu sesama manusia. Semua agama juga mengajarkan umatnya untuk menyebarkan cinta kasih. Cinta kasih ini dimulai dari diri sendiri, keluarga, lalu cinta kasih kepada hewan, alam, hingga meluas pada suku, bangsa, dan antar agama.

Kita juga diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan dalam kebenaran. Tiap umat pasti memiliki keyakinan berbeda-beda, yang menurut mereka adalah paling benar. Namun, apapun agamanya, yang orang-orang nilai terhadap diri kita adalah dari perilaku kita, perilaku yang merepresentasikan agama yang dianut. Maka upaya untuk saling mengerti dan menghormati beragam perbedaan perlu ditingkatkan untuk menciptakan kerukunan serta keharmonisan antar umat beragama.

Di Indonesia sendiri, indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) mengalami peningkatan. Menurut data Kementerian Agama, pada tahun 2021 skor KUB meningkat 4,93% dari tahun sebelumnya, menjadi 72,39%. Ini menunjukkan masih adanya peluang untuk menciptakan nuansa negara kita menjadi lebih toleran dan saling menghargai.

Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kerukunan cukup dengan mengimplementasikan ajaran agama kita secara benar, karena memang semua agama mengajarkan nilai kemanusian. Misalnya dalam Alkitab 1 Korintus 16:14 yang artinya: “Lakukan segalanya dengan cinta.” Atau dalam Konghucu yang terdapat 4 Watak Sejati, yaitu: Ren (cinta kasih), Yi (kebenaran), Li (kesusilaan), dan Zhi (kebijaksanaan, pengetahuan). Juga dalam Islam, yang mana ‘Islam’ berasal dari kata ‘salm’ dengan arti damai/kedamaian; juga dijelaskan pada QS Al-Baqarah [2]: 143 yang artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….”

Dan sebagai muslim, saya pun diajarkan untuk menjadi umat yang moderat. Ini menjadi salah satu nikmat karunia agama yang saya yakini dan perlu diaktualisasikan dalam tiap pikiran dan tindakan. Moderat di sini bisa berarti memposisikan diri berada di tengah-tengah dalam mengambil tindakan atau bersikap objektif. Juga bisa diartikan bahwa kita harus adil dan tegas dalam menentukan keputusan. Moderat bisa juga bermakna ‘yang terbaik’, atau tinggi dalam menjunjung nilai moral, serta tidak berpihak pada golongan kanan-kiri atau manapun.

Habib Husein Ja’far pernah berkata, “Kita bisa berbeda dalam hal kebenaran, namun kita memiliki visi yang sama dalam hal kebaikan.” Perbedaan atau keberagaman ini bukanlah menjadi ancaman, tapi justru menjadi suatu keuntungan untuk lebih saling mengenal, dan lebih kuat dalam mewujudkan persatuan dan kerukunan. Maka, ada banyak upaya yang bisa kita lakukan untuk membangun masyarakat dengan moderasi agama yang tinggi; apalagi sekarang dengan adanya media massa yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Upaya ini dapat dimulai dari peningkatan literasi digital, membangun dialog atau komunikasi yang harmonis, membaca dan turut memfilter informasi yang dibutuhkan; serta bisa ikut membuat, atau minimal menyebarkan informasi-informasi yang bermanfaat.

Penulis: Ahmad Syifaun Naja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *