pinterest.com

Tahun 2024 memberikan awal baru atas harapan untuk masa depan, termasuk perpolitikan di Indonesia. Dinamika munculnya calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), berbagai debat, serta kampanye menarik perhatian masyarakat, sebelum tiba saatnya masyarakat Indonesia untuk menentukan pilihannya. Berbagai pernak-pernik politik ini tentu tak luput dari antusiasme mahasiswa yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) nantinya.

Peran dan kontribusi mahasiswa telah terlihat sejak awal, bahkan sebelum penetapan resmi bakal calon presiden dan wakil presiden. Kita tentu masih ingat dengan nama Almas Tsaqibbirru yang mengajukan permohonan batas usia capres dan cawapres menjadi 40 tahun atau berpengalaman sebagai kepala daerah pada Mahkamah Konstitusi. Terlepas dari kontroversialitas ajuan tersebut, hal ini menjadi salah satu tanda bahwa mahasiswa tidak benar-benar acuh tak acuh terhadap perpolitikan negaranya.

Berbagai reaksi dan gerakan mahasiswa juga mulai bermunculan. Mulai dari organisasi mahasiswa dan Organisasi Kemasyarakatan dan Kepemudaan (OKP) yang mengikuti kampanye-kampanye yang ada, hingga banyaknya diskusi mahasiswa yang membahas isu-isu politik.

Apalagi kini, para bakal capres dan cawapres tengah gencar-gencarnya melakukan kampanye yang tentu juga ingin mengambil suara dari angkatan muda. Maka, mahasiswa yang memegang peran sebagai social control harus jeli dalam menilai situasi ini. Terlibat dalam pesta demokrasi pemilu bukan berarti mahasiswa abai terhadap daya kritisnya. Dengan kritis tersebut mahasiswa harus selalu update informasi kampanye yang valid dan kredibel. Hal ini sebagai penunjang bagi mahasiswa untuk dapat menyeleksi bakal capres dan cawapres sesuai hati nuraninya.

Mahasiswa seharusnya tidak hanya asal pilih dan hanya melihat di permukaan atas adanya pemilu ini. Mahasiswa tentu paham akan konsekuensi dari bakal capres dan cawapres pilihannya dalam menentukan masa depan dan kesejahteraan bersamanya. Maka sebagai bagian dari kaum intelektual mahasiswa harus turut ambil bagian dalam pesta demokrasi pemilu mendatang. Ambil bagian di sini bukan dimaknai sebagai aktif ikut kampanye atau menjadi panitia Tempat Pemungutan Suara (TPS) saja. Melainkan ini saatnya mahasiswa dalam merespon berbagai informasi pemilu yang ada dapat selektif dan memastikan kebenaran akan informasi tersebut.

Mahasiswa juga dapat memperluas wawasan keilmuannya dengan mengikuti forum-forum diskusi tentang perpolitikan dan meningkatkan pemahaman dari sumber-sumber terpercaya. Kini saatnya mahasiswa menghadapi tahun ini dengan memiliki keleluasaan dalam mengawal perpolitikan negara kita. Dengan kesempatan ini, mari kita sebagai mahasiswa untuk menentukan pilihan dengan bijak dengan tidak menjadi golongan putih (golput).

Kontributor: Aliffia Khoirinnisa (Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Editor: Repelita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *