Penulis: Qurrotul Khakimah

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu), saya menyoroti di lingkungan sekitar bahwa Pemilu ini sering menjadi cerminan kondisi moral suatu masyarakat. Ada beragam perilaku yang dilakukan orang-orang tentunya, dan tak jauh dari kegiatan kampanye. Ini yang menjadi perhatian, bahwa dalam Pemilu ini kita
menghadapi tantangan serius, misalnya kampanye negatif dan fitnah. Bisa dilihat dari Pemilu saat ini yang saling menyinggung sisi negatif antar pasangan calon. Tiap calon memang memiliki sisi negatif dan sisi positifnya masing-masing, namun tak jarang kita temui dari fakta yang ada justru terdapat pihak yang
menggiring opini lain sehingga dari hal tersebut bermunculan fitnah-fitnah yang tidak sesuai.

Kampanye negatif merujuk pada upaya sengaja untuk menciptakan citra negatif terhadap lawan politik; sementara fitnah mengarah ke pelibatan menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan untuk merugikan seseorang atau kelompok. Dua hal ini merupakan praktik yang sering kali menghadirkan efek buruk dalam konteks politik, juga dapat menciptakan lingkungan politik yang kurang sehat
dan dapat merusak proses demokrasi.

Pemilu dengan kampanye negatif dan fitnah juga memberikan dampak ke beberapa aspek. Misalnya, memengaruhi pandangan publik karena informasi yang diterima tak sesuai dengan faktanya; memicu ketidakpercayaan pendukung; dan yang paling parah yaitu merusak reputasi calon atau partai politik sasaran.

Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk meningkatkan kesadaran dan memperhatikan dalam proses kampanye, yaitu fokus pada isu-isu substansial dan melakukan verifikasi dari informasi agar lebih akurat. Ini menjadi kunci utama dalam mengatasi dampak dari masalah-masalah tadi. Jika kepercayaan masyarakat rusak maka informasi yang tidak sesuai datanya juga akan makin menyebar luas. Kita juga harus makin teliti dalam menentukan hak pilih, serta lebih bijak jika ingin turut berkampanye, agar tidak menyebarkan dan mudah terpengaruh dengan pemberitaan tanpa ada bukti yang jelas dan konkrit, terutama bagi pemilih “pemula” seperti saya. 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *