Judul Buku: Zaman Peralihan
Penulis Buku: Soe Hok Gie

Barangkali, hampir 2 tahun buku ini jadi wishlist bacaan. Salah satu tulisan yang berjudul “Wajah Mahasiswa UI yang Bopeng Sebelah” membuat saya begitu tertarik untuk membacanya. Dan beruntung, saya dapat membaca buku ini dalam cetakan pertama dari penerbit Gagas Media (2005).

Berjudul “Zaman Peralihan”, isinya merupakan kumpulan esai Soe Hok Gie yang telah diterbitkan di berbagai media, seperti Sinar Harapan, Indonesia Raya, dan Kompas; dan ia tulis pada masa transisi akhir pemerintahan Soekarno ke awal pemerintahan Soeharto. Seperti ciri khasnya, Gie menuliskan dengan jujur, dan tajam. Bahkan, walaupun ditulis pada sekitar tahun 60-an, isinya masih relevan jika kita baca sekarang.

Terdapat 4 bab dalam buku ini. Di sini, peran editor sangat membantu, yakni Stanley, dan Aris Santoso. Mereka menyusun tiap tulisan sesuai topik, yang membuat isi buku ini makin runtut dan memudahkan kita untuk membaca.

Bagian pertama adalah “Masalah Kebangsaan”. 

Dibuka dengan tulisan Gie berjudul “Di Sekitar Demonstrasi-demonstrasi Mahasiswa di Jakarta”. Menceritkan awal terbentuk dan usaha dari organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dalam upaya pembersihan PKI/Gestapu, lalu terbunuhnya 2 mahasiswa dalam demonstrasi (Arief Rachman Hakim, dan Zubaidah), hingga dibubarkannya KAMI secara sepihak oleh Soekarno.

Gie juga menyinggung soal “Kebebasan Pers dan Kekecewaan Masyarakat”. Awal masa Orde Baru, kebebasan pers kembali pulih, dan menimbulkan kegembiraan. Namun, di sisi lain, masyarakat juga frustasi. Sebab, berita-berita tentang korupsi maupun penyelewengan oleh pejabat serta atasan dapat dengan mudah dibaca. Kekecewaan ini ditambah dengan tidak sigapnya aparat dalam melakukan penegakan hukum.

Bagian kedua: Masalah Kemahasiswaan

Tulisan “Wajah Mahasiswa UI yang Bopeng Sebelah” ada di bab ini. Soe Hok Gie mengkritik bobroknya dunia mahasiswa, termasuk kawan-kawannya di Universitas Indonesia (UI). Beragam penyelewengan dilakukan, seperti korupsi, hingga rusaknya demokrasi di dunia mahasiswa. Ia menyinggung Organisasi Mahasiswa Eksternal (Ormek) bahkan Ormas, yang ikut campur urusan organisasi mahasiswa secara dominan, dan membuat mahasiswa non-ormas jengkel. Gie menggambarkan bahwa kampus merupakan “republik kecil” dan cerminan warga negara dalam “republik besar”. Ia juga berpendapat, agar soal-soal ini harus dibuka ke muka umum.

“Bagi saya KEBENARAN walau bagaimanapun sakitnya adalah lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.” (hal 168)

Di bab ke-2, Gie juga menulis soal tumbangnya gerakan mahasiswa di Universitas Peking/Pei Ta, lalu cerita selama jadi mahasiswa semester akhir, kebobrokan dosen-dosen semasanya, serta sikap mahasiswa yang bermental sok kuasa. “Merintih kalau ditekan, tapi menindas kalau berkuasa.” (hal 150)

Bagian ketiga: Masalah Kemanusiaan

Di bagian ke-3 ini membuat perasaan saya bercampur aduk. Esai pertamanya adalah “Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali”. Bersama aktivis angkatan ‘66, Gie turut aktif dalam aksi pengganyangan PKI setelah terjadi Gerakan 30 September. Namun, Gie juga salah satu orang pertama yang bersuara, ketika terjadi penyimpangan terhadap para tahanan terduga PKI. Dalam 3 bulan, ada sekitar 80.000 jiwa yang dieksekusi mati, tanpa proses pengadilan. Banyak dari mereka yang berharap agar langsung dibunuh, agar tak merasakan kejinya proses eksekusi. Bali yang kita kenal indah, menjadi neraka penyembelihan.

Soe Hok Gie juga menulis tentang kematian Sutan Sjahrir, dan para tahanan lain yang yang dihukum tanpa diadili, hingga mati perlahan, salah satunya Prof. Dr. Soekirno. Lalu soal diberlakukannya syarat-syarat baru, seperti dalam berkerja atau masuk sekolah, yakni wajib memiliki surat tidak terlibat G30S. Ia juga menyinggung kaum intelektual agar mau bicara dan bertindak terhadap pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang terjadi.

Bagian keempat: Catatan Turis Terpelajar

Bab terakhir, Gie menulis pengalamannya selama berkunjung ke luar negeri. Ia muak dengan birokrasi di Indonesia. Dalam tulisan “Saya Bukan Wakil KAMI”, ia sempat ditahan saat hendak mengurus paspor untuk ke AS. Selain harus punya surat keterangan tidak terlibat G30S, Gie yang merupakan keturunan Tionghoa, dipertanyakan status kewarganegaraannya oleh pegawai imigrasi. Padahal, ia sudah membuktikan bahwa dirinya adalah pegawai negeri (dosen Fakultas Sastra UI), dan Ketua Senat FSUI.

“Lucu sekali rasanya, saya tidak pernah berpikir sedetik pun, bahwa saya bukan bangsa Indonesia. Tiba-tiba saya harus membuktikan bahwa saya adalah warga negara Indonesia.” (hal 229)

Di sekitar New York, Gie menulis “Masalah Identitas Negro di Amerika”. Di AS telah lama ditanamkan pada masyarakat bahwa black is bad, orang-orang Negro malu berkulit hitam. Dari sini, Gie yang sebelumnya jijik dengan cara politik dan korupnya Soekarno, menjadi sadar. Bahwa dengan segala kegilaannya, Soekarno telah memberi sesuatu pada bangsa, yaitu identitas diri. Kawan-kawannya di sana merasa kagum dengan Indonesia, terutama dalam  bidang bahasa dan pendidikan.

Membaca buku Zaman Peralihan mengajak kita untuk kembali melihat kejadian di masa-masa sebelumnya. Isinya masih relevan, walaupun berarti disayangkan. Kebobrokan masih terjadi dalam penyelenggaraan pemerintah, hukum, bahkan di tingkat mahasiswa. Dan Soe Hok Gie berpendapat agar kita tak perlu malu jika “borok-borok” kita diketahui. Justru, ini dapat menjadi salah satu jalan untuk membersihkan ‘borok’ atau ‘kudis’ yang melekat. Karena menurut Gie, kebenaran walau bagaimanapun lebih baik ketimbang kemunafikan. Ia menambahkan, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Penulis: Syifaun Naja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *